Pikiran Penggerak Dunia: Neurosains Meretas Batas Disabilitas
Rp0,-
-
-

Seorang individu modern yang skeptis, dibombardir oleh janji utopia dan ketakutan distopia dari revolusi neurosains, harus membangun sebuah toolkit berpikir kritis untuk membedah hype, memisahkan sains dari fiksi, dan merebut kembali otonomi kognitifnya di dunia di mana pikiran manusia adalah the next big thing. Buku ini dibuka dengan menempatkan kita pada posisi awal sebagai konsumen pasif yang tenggelam dalam tsunami informasi—dari ‘inspiration porn’ tentang disabilitas yang menyederhanakan masalah, hingga headline bombastis soal implan otak. Titik baliknya adalah kesadaran bahwa kita lebih sering menjadi target marketing ketimbang audiens teredukasi, memaksa kita untuk mulai mendekonstruksi narasi-narasi yang selama ini kita telan mentah-mentah. Konflik utama lalu bergeser dari kebingungan eksternal menjadi sebuah misi internal; rintangan terbesarnya bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan bias kognitif kita dan bujukan manis techno-solutionism yang menawarkan solusi instan untuk masalah kompleks. Di sinilah kita dibekali ‘perisai’ mental: sebuah framework untuk memvalidasi informasi, pohon keputusan untuk adopsi teknologi, dan prinsip ‘Dikotomi Kendali’ untuk fokus pada apa yang benar-benar bisa kita ubah. Puncaknya adalah sebuah pergeseran mindset dari korban sistem menjadi agen yang berdaya, ditantang oleh pertanyaan filosofis inti: Di era yang menjanjikan ‘upgrade’ pikiran, apakah kemerdekaan sejati ditemukan dengan mengakuisisi lebih banyak teknologi, atau justru dengan menumbuhkan kebijaksanaan untuk tahu kapan harus menolaknya secara tegas? Resolusinya bukanlah tentang ‘mengalahkan’ teknologi, tapi mencapai sebuah ko-evolusi yang cerdas, di mana semua wawasan disintesis menjadi sebuah manifesto personal untuk pikiran yang merdeka. Buku ini tidak ditutup dengan jawaban hitam-putih, melainkan sebuah proyeksi masa depan yang realistis di mana kemanusiaan dan mesin terus menari dalam sebuah tarian yang rumit, dan kita diajak untuk menjadi partisipan yang aktif dan kritis dalam tarian itu, bukan sekadar penonton pasif. Dalam perjalanan intelektual ini, lo adalah protagonisnya, dipandu oleh suara narator yang terasa seperti teman diskusi yang tajam dan witty, melawan kekuatan abstrak ‘The Hype’ sebagai antagonis utamanya. Semua ini dibungkus dalam atmosfer yang cerebral dan minimalis, dengan mood intellectual-noir dan estetika visualisasi data, seolah sedang dalam diskusi mendalam di kafe saat tengah malam.

Informasi
Jenis
Buku Digital
ISBN
eISBN
Terbit
Saluran Distribusi
# Keyword